puisi alam, keindahan

Bulan Sabit Merah

Terangmu pancarkan merah kemegahan
Karena merah tanpa emas, belum berjaya
Sabitmu menengadah, menyadong pada Tuhan
Pun, telapak tangan manusia menengadah
Mengharap uluran rahmat Tuhan
Dua ujung lengkung yang runcing
Tertanda pikiran kita harus tafakkur
Tengadahmu bagai senyum tulus sang Hamba
Karena hatinya kanaah
Sinarmu berbinar di kancah kegelapan
Berkat radiasi surya di lawan ufuk
Seperti manusia yang bersinar oleh radiasi Tuhan
Karena tak ada yang menjembatani
Seakan jarak tinggal sedekat dua jari

Ba’da isya, saat gema tilawah Ustadz Muammar ZA. Saat langit bersih dari sapuan alam
Saat kakak beradik, sumbing dan sindoro oleh lampion kaca yang menyala.
Zaidatul Ma’arif, 19.40 WIB, 5 Juli 2019

puisi alam, keindahan

Kereta Hidup

Malam hening, bisikkan seberkas gelisah
Derai angin, hempaskan memo kala itu
Bayang umbra, hapus siluet diriku
Tak segan, rembulan radiasikan berkas sinar

Aku terhempas angin lalu
Tapi, enyahlah angin nanti

Gesit aku memutar kendali
Berbelok ke arah senja
Menelusur jauh, jejak para penghulu

Ya, hidupku adalah jelajah mata
Sejauh apapun, kan kulalui
Meski milyaran blokade menghalangi jalanku

Senja di bulan Juni 2019
Zaidatul Ma’arif
Arina Zulfa

jurnalistik, resensi, ikhtisar

Resensi Buku Saku Ayat-Ayat Semesta

Judul Buku Asli : The Universe seen through the Quran

Judul Terjemahan : Buku Saku Ayat-Ayat Semesta

Penulis : Dr. Mir Aneesuddin, M.Sc

Penerjemah : Machnun Husein, M.Ag.

Penerbit : Al Attique Publishers Inc., Canada

Tahun Terbit : 1999

Penerbit penerjemah : Zaman

Tahun terbit buku terjemahan : 2014

Cetakan ke : 1

Jumlah Halaman : 287

Buku ini menceritakan tentang hubungan antara Sains dan Alquran. Sesuai dengan pikiran utama buku ini, diawali dengan pembahasan mengenai agama dan sains. Kemudian struktur alam semesta sampai pada sejarah terbentuknya. Lalu, dilanjutkan pembahasan mengenai masa depan alam semesta sampai bagaimana manusia berkembang dan hidup di dalamnya. Penjelasan mengenai asal-usul dan teori evolusi kehidupan dilanjutkan dengan penjelasan kelahiran manusia, hereditas sampai akhir kehidupan manusia. Semuanya dijelaskan secara jelas bersumber pada Alquran dan bukti tambahan dari teori sains. Buku ini diakhiri penjelasan kesimpulan berupa Alquran dan kontroversi mengenai Alquran serta kemahakuasaan Allah dan keterbatasan manusia.

Kelebihan buku : penjelasan dijelaskan secara lengkap dan rinci. Penjelasan juga runtut tidak berbelit-belit. Dalil Alquan yang diterangkan mendukung penuh sains. Sehingga penjelasan sains tidak rancu.

Kelemahan buku : sampul kurang mendukung isinya. Ada beberapa bagian yang diulang-ulang.

http://library.uny.ac.id

http://uny.ac.id

http://journal.uny.ac.id

puisi alam, keindahan

Jaman Edan

Malam di sini tidak seperti di Temanggung

Kendaraan biasa melintas

Depan ma’hadku…..ya, setiap detik

Memang, jalan kompleks

Tapi, aktivitasnya seperti jalan raya

Per menit, jasa ojek online melenggang di jalan

Dengan motor matik berlalu bagai jet

Entah menjemput atau mencari penumpang

Sungguh tak ada putusnya

Tak hanya antar orang, tapi juga antar barang sampai order makanan

Inikah jaman edan…

Segalanya tak perlu mendatangi lokasi

Cukup menarikan jari di atas layar

Ya, sentuh sana-sini

Tau-tau jadi kantong kering

Semuanya serba cepat, tangkas, dan efisien

Tanpa mengenal waktu, dan tempat, bahkan batas wilayah

Apapun bisa satu dalam genggaman

Segenggam…ya… Segenggam, mungkin terbilang aneh jika terdengar orang purba

Tapi, nyata adanya

Hanya bergantung otak pemakainya

Bijak akan bawa kemajuan

Bejat bawa dia makin edan

Tak Berkategori

Tak Terdeteksi

Aku tidak tahu, bakal menulis apa

Yang kutahu hanya berdansa bersama pensil biru milikku

Mungkin yang kutulis mirip huruf Hijaiyah tanpa syakal

Sulit dibaca orang Ajam

Aku persis seperti kaca tanpa bayangan

Aku masih ragu dengan apapun

Hidupku bagai jejak tanpa acuan bayangan

Terus menghantui diriku

Berbagai rasa, takzim berucap

Syahdu di penghujung ruang misteri

Tak terasa oleh mesin pencari apapun

Penuh tanda tanya entah apa maksudnya

Hendak diri ini menumpahkan benih kebencian

Namun, jejak rasa lebih dulu mengeremnya

Menahan dalam satu ruang di interior hatiku

Ya, bersembunyi di dalamnya

Entah, sampai kapan ia bakal bebas.

Al Muhsin, waktu Maghrib tanggal 27 Juli 2019

tadabbur alam, menikmati alam, Tak Berkategori

Secarik hikmah

Di malam yang gulita

Langit menyapa dengan beludru hitamnya

Bersama pernak-pernik awan

Yang berderet runtut bagai gerbong kereta

Kerlip bintang pun menandai jengkal semesta

Sembari menembus hampanya semesta

Dengan lenteranya yang silau

Rembulan tenggelam di balik kawanan awan

Menyiratkan pendaran cahaya

Yang melubangi dinding qalbu

Semburat kilau gagak mencukil relung tanah

Menyeruakkan gedibalnya tikus mungil

Yang sedang menggali lubang

Supaya berlari sekencang angin lesus

Begitu cepat, tiada jejak

Di sisi yang lain…

Kodok mengoceh dengan merdunya

Jangkrik mengorek menggelitiki telinga

Tiupan maruta yang berembus lembut

Menidurkan jiwa-jiwa yang masih setia dengan raga

Ke dalam mimpi indah

Yang jauh di dalam sana

Bumi yang gelap

Menyisakan deburan ombak hening

Yang mampu menghantui manusia

Yang muncul dalam tiap bayangan hitam

Yang bayangnya terasa asing

Hanya jiwa yang positif sang penakluk malam

Tiada kengerian sama sekali

Gemericik air mata pun menderas

Seolah takjub akan panorama alam

Yang penuh dengan keindahan

Yang penuh dengan makna besar

Yang diciptakan oleh sang Maha Besar

Ingin sekali ku gapai bintang itu

Ingin ku naiki lintang kemukus itu

Ingin ku jelajahi alam dengan awan itu

Ingin ku menari bersama melodi angin

Ingin ku berlomba lari dengan tikus mungil itu

Ingin ku jelajahi kehidupan bangsa hewan

Ingin ku berani menatap gelapnya bumi

Ingin ku mempelajari alam

Yang tak hanya dalam mimpi

Tetapi dalam persemaian kenyataan

Arina Zulfa
Lereng Sumbing, 13 Maret 2018, pukul 21.19

puisi alam, keindahan, tadabbur alam, menikmati alam, Tak Berkategori

Aku adalah perajut asa

Malam hening
Terdengar gemericik air ledeng
Aku duduk di emperan ujung tangga
Orang bilang aku suka menyendiri
Padahal aku mencoba tafakkur

Sejauh aku melangkah
Banyak hari berlalu
Malam siang berulang kali berselang
Bulan bintang telah lama berbinar

Enggan aku bersaksi
Sebagai aktor drama kehidupan
Prestasi belum kugenggam
Hidup masih di jalan asa
Entah masih berapa kilometer lagi
Tapi, harapku cepat sampai

Aku bukan lagi seorang pengecut
Sesal di akhir itu biasa
Maka kubakar sesal itu
Lenyap menjadi asap

Berapa lama lagi aku berkubang di ma’had ini
Harapku tidak lama
Agar kuraih jalan asa lagi
Moga tuhan memudahkan

Hidupku takkan pernah berhenti di jalan asa
Kubawa diriku terus melaju
Meski diriku digerogoti capai, lelah, dan ngantuk
Aku akan meliuk dalam spiralnya hidup

Arina Zulfa

PPZM, malam Ahad, 5 November 2018, 21.06